07 March 2009

TeoriI Kepemimpinan Klasik dan Teori Kontigensi

Kepemimpinan Menurut Teori Sifat (Trait Theory)

Studi-studi mengenai sifat-sifat/ciri-ciri mula-mula mencoba untuk mengidentifikasi karakteristik-karakteristik fisik, ciri kepribadian, dan kemampuan orang yang dipercaya sebagai pemimpin alami. Ratusan studi tentang sifat/ciri telah dilakukan, namun sifat-sifat/ciri-ciri tersebut tidak memiliki hubungan yang kuat dan konsisten dengan keberhasilan kepemimpinan seseorang. Penelitian mengenai sifat/ciri tidak memperhatikan pertanyaan tentang bagaimana sifat/ciri itu berinteraksi sebagai suatu integrator dari kepribadian dan perilaku atau bagaimana situasi menentukan relevansi dari berbagai sifat/ciri dan kemampuan bagi keberhasilan seorang pemimpin.

Berbagai pendapat tentang sifat-sifat/ciri-ciri ideal bagi seorang pemimpin telah dibahas dalam kegiatan belajar ini termasuk tinjauan terhadap beberapa sifat/ciri yang ideal tersebut.

Kepemimpinan Menurut Teori Perilaku (Behavioral Theory)

Selama tiga dekade, dimulai pada permulaan tahun 1950-an, penelitian mengenai perilaku pemimpin telah didominasi oleh suatu fokus pada sejumlah kecil aspek dari perilaku. Kebanyakan studi mengenai perilaku kepemimpinan selama periode tersebut menggunakan kuesioner untuk mengukur perilaku yang berorientasi pada tugas dan yang berorientasi pada hubungan. Beberapa studi telah dilakukan untuk melihat bagaimana perilaku tersebut dihubungkan dengan kriteria tentang efektivitas kepemimpinan seperti kepuasan dan kinerja bawahan. Peneliti-peneliti lainnya menggunakan eksperimen laboratorium atau lapangan untuk menyelidiki bagaimana perilaku pemimpin mempengaruhi kepuasan dan kinerja bawahan. Jika kita cermati, satu-satunya penemuan yang konsisten dan agak kuat dari teori perilaku ini adalah bahwa para pemimpin yang penuh perhatian mempunyai lebih banyak bawahan yang puas.

Hasil studi kepemimpinan Ohio State University menunjukkan bahwa perilaku pemimpin pada dasarnya mengarah pada dua kategori yaitu consideration dan initiating structure. Hasil penelitian dari Michigan University menunjukkan bahwa perilaku pemimpin memiliki kecenderungan berorientasi kepada bawahan dan berorientasi pada produksi/hasil. Sementara itu, model leadership continuum dan Likert’s Management Sistem menunjukkan bagaimana perilaku pemimpin terhadap bawahan dalam pembuatan keputusan. Pada sisi lain, managerial grid, yang sebenarnya menggambarkan secara grafik kriteria yang digunakan oleh Ohio State University dan orientasi yang digunakan oleh Michigan University. Menurut teori ini, perilaku pemimpin pada dasarnya terdiri dari perilaku yang pusat perhatiannya kepada manusia dan perilaku yang pusat perhatiannya pada produksi.


Teori Kontingensi (Contigensy Theory)

Teori-teori kontingensi berasumsi bahwa berbagai pola perilaku pemimpin (atau ciri) dibutuhkan dalam berbagai situasi bagi efektivitas kepemimpinan. Teori Path-Goal tentang kepemimpinan meneliti bagaimana empat aspek perilaku pemimpin mempengaruhi kepuasan serta motivasi pengikut. Pada umumnya pemimpin memotivasi para pengikut dengan mempengaruhi persepsi mereka tentang konsekuensi yang mungkin dari berbagai upaya. Bila para pengikut percaya bahwa hasil-hasil dapat diperoleh dengan usaha yang serius dan bahwa usaha yang demikian akan berhasil, maka kemungkinan akan melakukan usaha tersebut. Aspek-aspek situasi seperti sifat tugas, lingkungan kerja dan karakteristik pengikut menentukan tingkat keberhasilan dari jenis perilaku kepemimpinan untuk memperbaiki kepuasan dan usaha para pengikut.

LPC Contingency Model dari Fiedler berhubungan dengan pengaruh yang melunakkan dari tiga variabel situasional pada hubungan antara suatu ciri pemimpin (LPC) dan kinerja pengikut. Menurut model ini, para pemimpin yang berskor LPC tinggi adalah lebih efektif untuk situasi-situasi yang secara moderat menguntungkan, sedangkan para pemimpin dengan skor LPC rendah akan lebih menguntungkan baik pada situasi yang menguntungkan maupun tidak menguntungkan. Leader Member Exchange Theory menjelaskan bagaimana para pemimpin mengembangkan hubungan pertukaran dalam situasi yang berbeda dengan berbagai pengikut. Hersey and Blanchard Situasional Theory lebih memusatkan perhatiannya pada para pengikut. Teori ini menekankan pada perilaku pemimpin dalam melaksanakan tugas kepemimpinannya dan hubungan pemimpin pengikut.

Leader Participation Model menggambarkan bagaimana perilaku pemimpin dalam proses pengambilan keputusan dikaitkan dengan variabel situasi. Model ini menganalisis berbagai jenis situasi yang mungkin dihadapi seorang pemimpin dalam menjalankan tugas kepemimpinannya. Penekanannya pada perilaku kepemimpinan seseorang yang bersifat fleksibel sesuai dengan keadaan yang dihadapinya.


Teori Kepemimpinan

Kepemimpinan berasal dari kata pimpin yang memuat dua hal pokok yaitu:

  1. Pemimpin sebagai subjek, dan.

  2. Yang dipimpin sebagai objek.

Kata pimpin mengandung pengertian mengarahkan, membina atau mengatur, menuntun dan juga menunjukkan ataupun mempengaruhi. Pemimpin mempunyai tanggung jawab baik secara fisik maupun spiritual terhadap keberhasilan aktivitas kerja dari yang dipimpin, sehingga menjadi pemimpin itu tidak mudah dan tidak akan setiap orang mempunyai kesamaan di dalam menjalankan ke-pemimpinannya.

Mitos-mitos Pemimpin

Mitos pemimpin adalah pandangan-pandangan atau keyakinan-keyakinan masyarakat yang dilekatkan kepada gambaran seorang pemimpin. Mitos ini disadari atau tidak mempengaruhi pengembangan pemimpin dalam organisasi.

Ada 3 (tiga) mitos yang berkembang di masyarakat, yaitu mitos the Birthright, the For All - Seasons , dan the Intensity. Mitos the Birthright berpandangan bahwa pemimpin itu dilahirkan bukan dihasilkan (dididik). Mitos ini berbahaya bagi perkembangan regenerasi pemimpin karena yang dipandang pantas menjadi pemimpin adalah orang yang memang dari sananya dilahirkan sebagai pemimpin, sehingga yang bukan dilahirkan sebagai pemimpin tidak memiliki kesempatan menjadi pemimpin

Mitos the For All - Seasons berpandangan bahwa sekali orang itu menjadi pemimpin selamanya dia akan menjadi pemimpin yang berhasil. Pada kenyataannya keberhasilan seorang pemimpin pada satu situasi dan kondisi tertentu belum tentu sama dengan situasi dan kondisi lainnya. Mitos the Intensity berpandangan bahwa seorang pemimpin harus bisa bersikap tegas dan galak karena pekerja itu pada dasarnya baru akan bekerja jika didorong dengan cara yang keras. Pada kenyataannya kekerasan mempengaruhi peningkatan produktivitas kerja hanya pada awal-awalnya saja, produktivitas seterusnya tidak bisa dijamin. Kekerasan pada kenyataannya justru dapat menumbuhkan keterpaksaan yang akan dapat menurunkan produktivitas kerja.

Atribut-atribut Pemimpin

Secara umum atribut personal atau karakter yang harus ada atau melekat pada diri seorang pemimpin adalah:

  1. mumpuni, artinya memiliki kapasitas dan kapabilitas yang lebih balk daripada orang-orang yang dipimpinnya,

  2. juara, artinya memiliki prestasi balk akademik maupun non akademik yang lebih balk dibanding orang-orang yang dipimpinnya,

  3. tangungjawab, artinya memiliki kemampuan dan kemauan bertanggungjawab yang lebih tinggi dibanding orang-orang yang dipimpinnya,

  4. aktif, artinya memiliki kemampuan dan kemauan berpartisipasi sosial dan melakukan sosialisasi secara aktif lebih balk dibanding oramg-orang yang dipimpinnya, dan

  5. walaupun tidak harus, sebaiknya memiliki status sosial ekonomi yang lebih tinggi disbanding orang-orang yang dipimpinnya.

Meskipun demikian, variasi atribut-atribut personal tersebut bisa berbeda-beda antara situasi organisasi satu dengan organisasi lainnya. Organisasi dengan situasi dan karakter tertentu menuntut pemimpin yang memiliki variasi atribut tertentu pula.

Ramuan Buat Negri Tercinta

Di Negara kita tercinta Indonesia, sudah banyak kita lihat dan dengar di acara TV, koran, majalah, radio dan bahkan di internet sudah sering bermunculan nama-nama para tokoh yang nota bene nya adalah orang-orang pintar. Mereka mengemukan pendapat begono-begini untuk solusi cerdas dalam membangun bangsa Indonesia tercinta ini yang masih dalam keterpurukan dan boleh dibilang negara kita saat ini dalam kondisi yang kritis (DEMAM).

Lalu bermunculanlah para tokoh-tokoh pemuka di negara kita ini dengan resep-resep yang menurut mereka sangat manjur dalam mengobati DEMAM tersebut. Ide demi ide dan saran demi saran dituangkan dan diaduk dalam segelas air demokrasi dan bahkan nyaris gelas sampai retak akibat adukan terlalu keras kerena ramuan yang di buat dari obat keras yang katanya bisa mengobati dan menjadi resep manjur bagi negri ini.

Alhasil... setelah sekian lama ramuan yang di kosunsi tersebut juga tetap tidak bisa mengobati DEMAM yang semakin lama semakin tinggi.

Nah Sekarang timbul pertanyaan ramuan yang seperti apa yang bisa mengobati DEMAM yang semakin tinggi tersebut ?

Bukankan yang meracik ramuan merupakan orang-orang terpilih yang punya kesaktian tinggi dan mempunyai padepokan dan jumlah santri jutaan dan terpercaya kesaktiannya ?

Dan masih banyak pertanyaan tentang racikan ramuan yang telah di buat tersebut yang intinya untuk mengobati DEMAM tinggi tersebut.

Dalam ilmu persilatan dan kanuragan setinggi apapun kesaktian yang di miliki oleh seseorang tetap masih ada yang lebih tinggi istilahnya di atas langit masih ada langit.

Artinya apa ?

Memang kita akui di Negara kita tercinta ini banyak orang-orang yang pintar apalagi sejak di runtuhkannya Orde Baru dan memasuki era Reformasi semua orang bebas mengemukakan pendapat untuk kemajuan dan kejayaan Bangsa Indonesia dan dapat kita lihat dengan kebebasan tersebut banyak bermunculan para tokoh dan elite politik yang tampil kemuka dan bersuara lantang dengan sekarung ide dan pendapat untuk mengatasi krisis yang terjadi di Negri ini. Akan tetapi belum juga bisa mengatasi krisis dan bahkan semakin parah

Bukankah mereka orang-orang yang pintar ?
* Jelas dong, kan pada lulusan Luar Negri yang mempunyai Gelar Prof, Dr + ing, Phd, master dll

Mereka Orang-orang yang menjunjung Demokrasi ?
*Pasti

Mereka orang-orang yang memiliki konsep dan mengerti aturan-aturan perundang-undangan
*Ya..iyalah dah di luar kepala semua tuh

Dll

Akan tetapi dari semua pertanyaan dan pernyataan yang kalaupun di ceritain semua pasti jawabannya is the best lah, Lalu apa sebenarnya yang terjadi sehingga masih belum ada ramuan yang super manjur mengobati Demam tersebut ?

Nah di sini penulis sedikit memberi masukan, ide dan pandangan

Sebenarnya di Negara kita ini sedang mengalami krisis kepercayaan akan adanya Tuhan seperti yang tertera di atas bahwasannya di atas langit masih ada langit maka ramuan yang musti di berikan agar mengobati demam tersebut adalah :

"Nilai-nilai Kejujuran, Keadilan, menyayangi, Kebersamaan, tanggung jawab dll semua ada pada 99 Sifat Allah yaitu ASMAUL HUSNAH".[sinksonk/Ed]

Just Kidding

Duh... sudah lama nggak menulis jadi kepingin menulis lagi, biasa karena kesibukan dan jadi lupa neh menulis. Tetapi apa yah bahan yang bagus untuk di tulis ada ide nggak dari rekan-rekan ?
yang jelas bukan menulis surat cinta lho, masalahnya daku dah kadarluarsa alias mati pajak so tank mungkin dong menulis surat cinta dan lagian kalopun mo nulis surat cinta mo di kirim ke siapa ?

Just Kidding

Cari bahan dulu ah......